Sponsored

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label THT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THT. Tampilkan semua postingan

Tuli Mendadak (Sudden Deafnes)

Kamis, 30 Juni 2011


Tuli mendadak (sudden deafness) ialah tuli yang terjadi secara tiba-tiba, bersifat sensorineural dan penyebabnya tidak dapat langsung diketahui. Beberapa ahli mendefinisikan tuli mendadak sebagai penurunan pendengaran sensorineural 30 dB atau lebih paling sedikit pada tiga frekuensi berturut-turut yang berlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari. Tuli mendadak bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari banyak penyakit. Suckfull dkk mendefinisikan tuli mendadak sebagai berikut: tuli sensorineural yang berlangsung mendadak lebih dari 15 dB pada tiga frekuensi atau lebih dibandingkan dengan telinga yang sehat atau pemeriksaan audiometri sebelumnya, disertai dengan atau tanpa gejala tinitus dan vertigo.1

Etiologi :1,2,3:

- Idiopatik
- Virus, terjadi pada 60% kasus, termasuk atrofi organ corti dan merupakan manifestasi paling banyak dari patologi virus.
- Bakterial, seperti Cryptococcus
- Neoplasma, contoh myeloma (biasanya bilateral), neuroma akustik
- Multipel sklerosis
- Penyakit pembuluh darah, contoh vertebrobasilar insufisiensi, sickle cell, kardiopulmonar bypass
- Oklusi vascular dan rupture membrane telinga dalam
- Autoimun
- Penyakit Meniere
- Gagal ginjal dan hemodialisis
- Vasospasme, emboli
- Kongenital
- Psikogenik sudden deafness

Gejala Klinis:

Penderita mengeluh pendengarannya tiba-tiba berkurang pada satu atau kedua telinga yang sebelumnya dianggap normal. Biasanya keadaan ini disadari penderita ketika bangun tidur pagi hari ataupun setelah bekerja. Umumnya penderita dapat mengatakan dengan pasti saat mulai timbulnya ketulian. Ketulian dapat mengenai semua frekuensi pendengaran, tetapi yang sering pada frekuensi tinggi. Tuli mendadak biasanya disertai dengan tinitus (91,0%), vertigo (42,9 %), rasa penuh pada telinga yang sakit (40,7%), otalgia (6,3%), parestesia (3,5%), tuli saraf sebelumnya(9,2%), tinitus sebelumnya (4,2% dan gangguan vestibuler sebelumnya(5,0%)1,2.

Diagnosis:

Diagnosis tuli mendadak ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan THT, audiologi, laboratorium serta pemeriksaan penunjang lain. Anamnesis yang teliti mengenai proses terjadinya ketulian, gejala yang menyertai serta faktor predisposisi penting untuk mengarahkan diagnosis. Pemeriksaan fisik termasuk tekanan darah sangat diperlukan. Pada pemeriksaan otoskopi tidak dijumpai kelainan pada telinga yang sakit1.

Pada pemeriksaan audiologi didapatkan1,2:

1. Tes penala : Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach memendek. Kesan: tuli sensorineural.
2. Audiometri nada murni: tuli sensorineural derajat ringan sampai sangat berat.
3. BERA (pada anak-anak atau pada pasien yang tidak kooperatif) : tuli saraf ringan sampai berat.
4. Tes SISI (short increment sensitivity index) skor 70-100%. Kesan : dapat ditemukan rekruitmen.
5. Tes Tone Decay : tidak ada kelelahan. Kesan : bukan tuli retrokoklea.
6. Audiometri tutur: speech discrimination score (SDS) kurang dari 100%. Kesan : tuli sensorineural
7. Audiometri impedans: timpanogram tipe A (normal), refleks stapedius ipsilateral. Negatif atau positif, sedangkan kontralateral positif. Kesan : tuli sensorineural koklea.
8. ENG : untuk pusing dan vertigo
9. CT scan untuk kasus tertentu
Penatalaksanaan1,2,3
- Kortikosteroid, khususnya pada kasus yang tidak diketahui penyebabnya (idiopatik), diberikan prednison oral 1mg/kgBB/hr selama 1 bulan dengan penurunan dosis secara bertahap sesuai respon pasien.
- Anti virus asiklovir diberikan pada tuli mendadak yang diketahui penyebabnya adalah virus.
- Diuretik
- Vasodilator
- Histamin
- Inhalasi karbogen
- Terapi mendengar, dengan bantuan hearing aid, latihan auditori
- Dan lain-lain

Prognosis
Pada umumnya makin cepat diberikan pengobatan makin besar kemungkinan untuk sembuh, bila lebih dari 2 minggu kemungkinan untuk sembuh menjadi lebih kecil. Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap tapi dapat juga tidak sembuh, hal ini disebabkan faktor konstitusi pasien seperti pasien yang pernah mendapatkan obat ototoksik dalam jangka lama, penderita diabetes mellitus, pasien dengan viskositas darah tinggi, dan sebagainya walaupun pengobatan diberikan pada stadium dini4.

DAFTAR PUSTAKA:

1. Tuli mendadak. Dikutip dari : www.ilmukedokteran.net
2. Danesh AA, Andreassen WD. Sudden hearing loss : audiological diagnosis and management. Colorado : American Academy of Audiology Convention Denver; 2007.
3. Sudden sensorineural hearing loss. Dikutip dari : www.deafnessresearch.org.uk
4. Soetirto I, Bashiruddin J. Tuli mendadak. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, penyunting. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2003. h. 35-36

Read more ...

Amandel, Perlukah Dioperasi?

Selasa, 16 Februari 2010




Sakit “Amandel” mungkin sudah sering kita dengar tapi apakah kita memang sudah mengetahui sebenarnya organ apa itu?

Amandel (tonsil) merupakan salah satu sistem bagian pertahanan tubuh yaitu jaringan limfoid yang fungsinya untuk menghasilkan sel-sel limfosit (bagian dari sel darah putih untuk mekanisme pertahanan tubuh). Amandel terletak pada kerongkongan di belakang kedua ujung lipatan belakang mulut (kita dapat melihat sendiri melalui cermin). Tonsil disebut amandel karena bentuknya mirip buah amandel.

Amandel/Tonsil

Tonsil merupakan bagian sistem pertahanan terdepan. Tonsil berperan mencegah penyebaran infeksi kuman yang memasuki tubuh melalui mulut, hidung dan kerongkongan, sehingga tidak jarang tonsil sering mengalami peradangan. Dengan demikian, pembesaran tonsil merupakan tanda reaksi pertahanan bila ada infeksi.

Pada anak yang sehat pun, tonsil bisa membesar. Puncak pembesaran ada usia 9-10 tahun, kemudian perlahan akan menyusut. Karena itu, bila tidak ada indikasi yang tepat sebisa mungkin tindakan operasi pengangkatan tonsil dihindari.

Tonsilitis

Peradangan pada tonsil disebut dengan tonsilitis, penyebab terbanyak ialah infeksi bakteri Streptokokus beta hemolitikus tapi dapat juga disebabkan oleh kuman lain ataupun jenis virus. Untuk infeksi bakteri jenis Streptokokus beta hemolitikus dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya yaitu penjalaran penyakitnya dapat mengenai jantung (demam rheumatik), sendi, ginjal, infeksi pada mata atau radang pada selaput otak.

Tonsilitis dapat bersifat akut atau kronis. Bentuk akut yang tidak parah biasanya berlangsung sekitar 4-6 hari, dan umumnya menyerang anak-anak pada usia 5-10 tahun. Gejala awalnya dapat berupa demam, rasa gatal/kering di kerongkongan, lesu, sakit saat menelan makanan, napas yang berbau. Lebih lanjut akibat peradangan tersebut, tonsil menjadi bengkak, panas, gatal, dapat timbul keluhan berupa sakit pada otot dan sendi, nyeri seluruh badan, sakit pada kepala dan telinga.

Sedangkan pada tonsillitis yang kronis, peradangan terjadi secara berulang-ulang dan berlangsung lama. Penyebabnya bisa berupa iritasi kronik (rokok, makanan), pengaruh cuaca, pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat, dan hygiene mulut yang buruk. Gejalanya ialah sering timbul kekambuhan sakit kerongkongan dan dapat keluar nanah pada lekukan tonsil. Tonsil kelihatan membesar, merah, dan terjadi abses (berbintik-bintik nanah berwarna putih kekuning-kuningan). Pembesaran tonsil/amandel bisa sangat besar sehingga tonsil kiri dan kanan saling bertemu dan dapat mengganggu jalan pernapasan.

Perlukah Amandel diangkat?

Pada prinsipnya, selalu diusahakan jalan dengan terapi obat, sebelum terpaksa menjalani operasi. Peradangan tonsil yang akut ataupun pembengkakan tonsil yang tidak terlalu besar dan tidak menghalangi jalan pernapasan, serta tidak menimbulkan komplikasi biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan/operasi.
Biasanya dokter baru menganjurkan untuk dilakukan operasi pengangkatan (Tonsilektomi) bila tonsil sudah membesar sedemikian rupa sehingga menimbulkan sumbatan yang berakibat gangguan pernapasan, kesulitan berat menelan dan berbicara, diduga sebagai sarang infeksi untuk tempat lain dan suspek tumor jinak/ ganas.

Meskipun tonsil diangkat, menurut penelitian sampai saat ini tidak ada perbedaan imunitas/ kekebalan yang cukup signifikan antara yang menjalani tonsilektomi dan yang tidak.

Penatalaksanaan

Untuk tonsilitis akut:
• Diusahakan untuk minum banyak air atau cairan seperti sari buah, terutama selama demam. Menghindari minum es, sirop, es krim, makanan dan minuman yang didinginkan, gorengan, makanan awetan yang diasinkan, dan manisan
• Berkumur dengan air garam hangat 3-4 kali sehari, dengan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan
• Diberikan terapi antibiotik (atas petunjuk dokter) apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah komplikasi
• Istirahat yang cukup.

Untuk tonsilitis kronik:
• Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur atau obat isap
• Terapi radikal dengan Tonsilektomi bila dengan obat tidak berhasil.
Read more ...

Voucher iklan autosubmit iklan murah
Voucher iklan autosubmit iklan murah

Entri kesehatan ter-Populer